BLOG GIAK INDONESIA.COM: KASUS
Breaking News
Loading...
Showing posts with label KASUS. Show all posts
Showing posts with label KASUS. Show all posts

Tuesday, 9 February 2016

Korupsi Lampu Jalan Kembali Jabat Kadishub Maros

Pekerja merapihkan lampu PJU yang telah diganti dengan lampu hemat energi LED di Jakarta, Selasa (29/12). Pemrov DKI Jakarta mengganti lampu listrik Penerangan Jalan Umum (PJU) dari konvensional menjadi lampu hemat energi LED. (Liputan6.com/Yoppy Renato)
Pekerja merapihkan lampu PJU yang telah diganti dengan lampu hemat energi LED di Jakarta, Selasa (29/12). Pemrov DKI Jakarta mengganti lampu listrik Penerangan Jalan Umum (PJU) dari konvensional menjadi lampu hemat energi LED.


MPI-GIAK.com, Makassar - Rachmat Bustar, tersangka kasus dugaan korupsi lampu jalan tahun anggaran 2011, kembali menjabat Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maros setelah penahanannya ditangguhkan oleh Mabes Polri.
 
"Seminggu lalu, Rachmat Bustar datang melapor ke sini. Dirinya mengaku siap untuk kembali bertugas sebagai kepala dinas. Sesuai aturan, kami pun membuat SK-nya," kata Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKDD) Kabupaten Maros Arwin Malik pada wartawan, Selasa (26/1/2015) lalu.

Arwin menyatakan keputusan pengembalian jabatan Rachmat karena belum adanya keputusan hukum yang bersifat tetap (incrach). Selama ditinggalkan Rachmat, jabatan tersebut dipegang pelaksana harian.


Namun karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa, penahanan Rahmat semestinya tidak bisa ditangguhkan, kecuali ia sakit.
"Keputusan mengembalikan jabatan Rachmat Bustar sudah sesuai aturan, karena proses hukumnya belum jelas dan belum ada keputusan hukum yang bersifat tetap," ujar Arwin.

Sementara itu, Staf Badan Pekerja Anti Corruption Coummittee (ACC) Wiwin Suwandi mengatakan, penangguhan penahanan dalam Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) memang menjadi subjektivitas penyidik.


"Pembantaran dengan penangguhan itu berbeda. Karena kalau ia sakit, penyidik akan mengantarnya ke rumah sakit, tapi masih dalam status penahanan. Penangguhan penahanan tersangka korupsi itu melanggar azas keadilan," ucap Wiwin.

Putusan 4 Tahun Sangat Ringan untuk Jero Wacik


Jero Wacik saat menjalani sidang vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (9/2). Jero Wacik Divonis 4 Tahun Penjara dan Ganti Uang Rp 5 Miliar. (Liputan6.com/Helmi Afandi)
Jero Wacik saat menjalani sidang vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), 
Jakarta, Selasa (9/2). Jero Wacik Divonis 4 Tahun Penjara dan Ganti Uang Rp 5 Miliar.

MPI-GIAK.com, Jakarta - Jero Wacik divonis 4 tahun penjara. Dia dinyatakan bersalah atas perkara dugaan penyelewengan Dana Operasional Menteri (DOM) dan penerimaan gratifikasi ketika menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Menyatakan Jero Wacik secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi," ujar Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Sumpeno, Selasa 9 Februari 2016.
"Hukuman pidana selama 4 tahun dan pidana denda Rp 150 juta subsider 3 bulan," kata dia.

Jero Wacik juga dijatuhi hukuman pidana tambahan dengan harus membayar uang pengganti Rp 5,073 miliar.
"Dengan ketentuan, apabila setelah 1 bulan putusan berkekuatan hukum tetap tidak mampu membayar, maka harta benda akan disita dan dilelang. Bila harta benda tidak mencukupi, maka pidana penjara 1 tahun," tegas Sumpeno.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut politikus Partai Demokrat itu dengan hukuman penjara 9 tahun ditambah denda Rp 350 juta subsider 4 bulan kurungan.


Jero dan Jaksa Pikir-pikir
Meski lebih rendah dari tuntutan jaksa pada KPK, Jero Wacik mengaku belum puas dengan putusan yang diambil oleh majelis hakim.
"Belum puaslah," ujar Jero Wacik di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa 9 Februari 2016. Sesekali dia menyunggingkan senyum di bibirnya.
Namun, pria yang menjalani sidang dengan mengenakan kemeja batik abu-abu lengan panjang ini belum langsung memutuskan untuk mengajukan banding atas putusan hukum yang menimpanya.
"Pikir-pikir, kan ada waktunya, saya rundingan dulu," kata dia.
Jero juga mengucapkan terima kasih kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK yang pernah menjadi saksi meringankan pada perkaranya.
"Menurut saya hasil yang maksimal yang sementara kami dapat. Bahwa perjuangan kami membela diri dengan saksi-saksi banyak dipertimbangkan majelis hakim. Saya ucapkan terima kasih kepada Pak SBY, Pak JK. Pak JK sudah hadir jadi saksi meringankan, dan terima kasih atas PH saya," kata Jero.


Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menyatakan masih pikir-pikir apakah akan banding atau tidak.
"Kami menyatakan pikir-pikir. Tuntutan kami 9 tahun dan ini diputus 4 tahun. Hanya masalah tinggi pidana penjara yang dijatuhkan," ujar Ketua Tim Jaksa KPK Dody Sukmono.

Sunday, 7 February 2016

Diduga Video “Mesra” Jessica Dan Mirna Di Maros.

MPI-GIAK.com – Jessica telah menyangkal terlibat atas kematian Mirna. Media Australia, news.com.au, pada Jumat (5/2/2016), mengungkap bahwa Jessica, orang tua dan dua saudara telah berpenduduk tetap Australia sejak berimigrasi dari Indonesia sekitar delapan tahun yang lalu. Keluarga Jessica tercatat tinggal di Sydney.

Beredar Foto Masa Lalu 'Jessica' dan 'Mirna' di @jessicakumalawongsooo, Termasuk Foto Bermesraan
Seorang sumber yang dekat dengan keluarga Jessica mengatakan kepada media Australia itu, bahwa Jessica hanya liburan di Indonesia bersama orangtuanya. Dia semestinya kembali bekerja sebagai desainer grafis di Sydney beberapa minggu setelah penangkapannya oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya.
beredar-video
Di Kabupaten Maros, telah beredar video adegan mesra yang sangat mirip dengan Jessica dan Mirna. Dalam adegan yang berlangsung beberapa detik tersebut terlihat mereka berdua mengenakan baju tidur berwarna biru laut dan melakukan adegan mesra.
Menurut pengamat dan penikmat media sosial di Kab. Maros A.M. Hidayat Assegaf dan H. Maulana Azis, bahwa dengan adanya internet kita begitu cepat menerima dan mengirim informasi kepada siapa saja, mengenai keaslian dan kebenaran data kayaknya perlu investigasi lebih lanjut oleh pihak yang berwenang” imbuh Maulana dan Hidayat.
Di samping Video beredar luas juga foto Jessica di media sosial yang bertuliskan “ongopi yuk..” yang juga hangat diperbincangkan.

56 Adegan Rakonstruksi Jessica Versi Polisi

Jessica Peragakan 56 Adegan Rakonstruksi Versi Polisi-1

MPI-GIAK.com - Polda Metro Jaya rencananya menggelar rekonstruksi versi Jessica dan penyidik terkait kematian Wayan Mirna Salihin di kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta. Namun, Jessica menolak melakukan rekonstruksi versi penyidik. 

Jessica Peragakan 56 Adegan Rakonstruksi Versi Polisi-3

Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti enggan menyebut alasan Jessica keberatan mengikuti rekonstruksi versi polisi. Penyidik mencatat ada 56 adegan di Kafe Olivier tersebut.





HT Laporkan Jaksa Agung dan Jaksa Yulianto ke Bareskrim Polri

HT Laporkan Jaksa Agung dan Jaksa Yulianto ke Bareskrim Polri-2
CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (kanan) didampingi kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea.
Jakarta, Jumat (05/02/2016).


HT Laporkan Jaksa Agung dan Jaksa Yulianto ke Bareskrim Polri-0


MPI-GIAK.com - CEO MNC Grup Hary Tanoesoedibjo (HT) didampingi kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea mendatangi kantor Bareskrim Mabes Polri untuk melaporkan Jaksa Agung HM Prasetyo dan Kasubdit Penyidik Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Agung, Yulianto di Jakarta, Jumat (05/02/2016). Dalam laporannya HT menjelaskan bahwa kedua pejabat negara tersebut diduga melakukan pencemaran nama baik, fitnah dan memberikan keterangan palsu.



Warga Suku Anak Dalam Serahkan Senjata Api ke TNI

warga suku anak dalam serahkan senjata api ke TNI



MPI-GIAK.COM – Ada sebanyak empat orang perwakilan Suku Anak Dalam menyerahkan sejumlah 25 pucuk senjata api kepada aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Senjata tersebut diserahkan kepada Korem 042 Garuda Putih (Gapu), Provinsi Jambi.
Penyerahan senjata oleh beberapa orang Suku Anak Dalam tersebut tidak lepas dari upaya yang telah dilakukan oleh Korem 042/Gapu. Seperti diketahui, sejak tanggal 29 Januari lalu, jajaran Korem 042/Gapu tengah mengadakan Operasi Serbuan Teritorial. Kegiatan tersebut adalah wujud dari kegiatan sosial yang dilakukan TNI kepada masyarakat, termasuk warga Suku Anak Dalam, agar dapat tercipta tertib hukum di masyarakat.
Sebelum melakukan Operasi Teritori ini, pihak TNI sempat melakukan pendekatan kepada warga Suku Anak Dalam. Hal ini dimaksudkan untuk memberi informasi dan bimbingan kepada warga Suku Anak Dalam mengenai kesadaran hukum di masyarakat. Sebagaimana yang telah diketahui di dalam UU Darurat 12/1951, bahwa kepemilikan senjata api di Indonesia memang tidak sembarang orang diperbolehkan.
Kolonel Inf TNI, Makmur Umar , mengatakan bahwa upaya dari Korem 042/Gapu untuk mengamankan kepemilikan senjata api para warga Suku Anak Dalam dan masyarakat umum lainnya adalah sebagai sinergitas antara aparat intelejen dan Teritorial.
”Aparat Intelijen melakukan penggalangan secara terbatas, sementara kegiatan pembinaan Teritorial dilakukan melalui komunikasi sosial dengan masyarakat Suku Anak Dalam,” ujar Makmur dalam keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, pada Jumat (29/1).
Makmur juga mengharapkan, bagi warga Suku Anak Dalam lain yang belum menyerahkan senjata api kepada Babinsa atau Koramil, untuk segera menyerahkannya. Senjata tersebut meliputi senjata laras panjang ataupun laras pendek. Hingga saat ini, pembinaan rutin masih dilakukan oleh TNI kepada warga Suku Anak Dalam.
Adapun wilayah penyerahan senjata api tersebut, terdiri dari : Kodim 0415/Bth (Kabupaten Batanghari 40 pucuk dan Kabupaten Muara Jambi 3 pucuk), Kodim 0416/Bute (Kabupaten Muaro Bungo 3 pucuk dan Kabuapten Muara Tebo 1 pucuk), Kodim 0417/Kerinci (Kabupaten Kerinci 3 pucuk), Kodim 0419/Tanjab (Kabupaten Tanjab Barat 1 pucuk), Kodim 0420/Sarko (Kabupaten Merangin 1 pucuk dan Kabupaten Sarolangun 5 pucuk).

Hubungan Racun Sianida Dengan Jessica

Jessica Kumala Wongso, saat rekonstruksi.
Jessica Kumala Wongso Saat rekonstruksi
Jakarta - Meski tidak akan mengajukan praperadilan, pengacara Jessica Kumala Wongso, Yudi Wibowo, beranggapan dasar penetapan tersangka terhadap klien sekaligus keponakannya itu lemah.

Menurut Yudi, hingga kini penyidik Polda Metro Jaya belum bisa menemukan, hubungan antara racun sianida dengan Jessica. Zat berbahaya itu diduga terkandung di kopi yang diseruput Wayan Mirna Salihin, yang meninggal usai menyeruput kopi di restoran Grand Indonesia, 6 Januari lalu.

Yudi juga mempertanyakan pencarian celana Jessica oleh kepolisian, yang menurutnya, tak ada berhubungan sama sekali dengan kematian Mirna.
"Jessica menuang racun tidak bisa dibuktikan, tidak ada itu. Asumsi saja," ujar Yudi, melalui pesan pendeknya kepada wartawan, Minggu (31/1/2016).

Yudi menjelaskan, gerakan-gerakan Jessica dalam rekaman CCTV atau kamera pengintai yang dituduhkan penyidik tak berdasar.

Jessica yang meraba tas dalam rekaman CCTV itu diduga menuang sianida. Namun, Yudi memastikan, Jessica hanya mengambil telepon genggamnya.
"Ngeraba tas ambil HP. Polisi belum bisa menghubungkan," jelas Yudi.

Saksi kasus kematian Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso, akhirnya ditangkap di Hotel Neo, Mangga Dua, Jakarta Utara, pukul 07.45 WIB Sabtu 30 Januari 2016. Penangkapan Jessica setelah kepolisian resmi menetapkan tersangka pada Jumat 29 Januari malam.

Saat penangkapan, Jessica disaksikan kedua orangtuanya. Dia langsung digelandang penyidik ke Mapolda Metro Jaya tanpa didampingi tim pengacaranya. Di kepolisian, dia langsung diperiksa secara maraton hingga pukul 20.45 WIB.

Jessica juga telah dicekal Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia selama 20 hari ke depan sejak 29 Januari 2016. Pencekalan ini agar perempuan 27 tahun ini tidak bepergian ke luar negeri, guna keperluan pemeriksaan kasus Mirna.

Wayan Mirna Salihin meninggal usai menyeruput es kopi Vietnam di Olivier Cafe, West Mall, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat, Rabu 6 Januari lalu. Saat kejadian, Mirna didampingi 2 temannya, Jessica dan Hanny.

Istri Arief Sumarko itu sempat kejang usai menyeruput kopi, mulutnya mengeluarkan busa dan meninggal sesaat tiba di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat. Hasil penyelidikan kepolisian, kopi tersebut mengandung sianida.

Rekonstruksi Kasus Mirna


Jessica Kumala Wongso, Tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Saat Rekonstruksi.

Tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso, saat rekonstruksi. 


JAKARTAJessica dijerat Pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, pada 29 Januari 2016. Dia ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta sejak 30 Januari 2016.

Polisi menghadirkan Jessica Kumala Wongso dalam rekonstruksi kasus kematian Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier, West Mall Grand Indonesia hari ini. Jessica memasuki kafe mengenakan sandal jepit, celana 3/4, dan baju tahanan warna oranye dengan kaus lusuh di baliknya.

Awalnya, tersangka kasus dugaan pembunuhan Mirna ini menggerai rambutnya. Rambut sebahu itu dibiarkan tergerai, dan wajah Jessica cemberut kala difoto.

Ia lalu memperagakan beberapa adegan rekonstruksi kasus kopi sianida yang menewaskan Mirna. Perempuan berparas oriental itu kemudian mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda.

Jessica tampil tanpa riasan. Terlihat garis hitam di bawah matanya, muka sedikit pucat dan rambut yang tak terikat dengan sempurna. Wajahnya masih sama, cemberut. Tak ada senyum di bibirnya. Rekonstruksi digelar sejak sekitar pukul 08.45 WIB. 

Wayan Mirna Salihin menjadi korban pembunuhan dengan modus racun sianida yang ditaruh di kopi es Vietnam di kafe Olivier, Jakarta Pusat pada Rabu 6 Januari 2016.

Teman-teman Mirna Salihin saat ngopi tersebut telah diperiksa intensif. Salah seorang temannya, Jessica Kumala Wongso telah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan Hanie Juwita Boon berstatus saksi.

Bukti Terbaru G30S/PKI



Bukti Terbaru G30S/PKI : Soeharto Dalang Pembunuhan Ahmad Yani?

Jenderal Ahmad Yani
Kesaksian mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama HARYA SUDIRJA bahwa Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi Presiden kedua bila kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui isteri dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut.
“Bapak sendiri sudah cerita kepada kami (isteri dan putra-putri Yani) bahwa dia bakalmenjadiPresiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang sama orang lain”, ujar putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani,Yuni Yani dan Edi Yani – Sebelumnya diberitakan dalam acara diskusi “Jakarta – Forum Live, Peristiwa G-30S/PKI, Upaya Mencari Kebenaran” terungkap kesaksian baru, yaitu beberapa hari sebelum peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus, Bung Karno pernah meminta Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikandirinya menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun.
Kesaksian tersebut disampaikan salah satu peserta diskusi: Harya Sudirja. Menurut mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama ini, hal itu disampaikan oleh Letjen Achmad Yanisecara pribadi pada dirinya dalam perjalanan menuju Istana Bogor tanggal 11 September 1965. Putra-putri Achmad Yani kemudian menjelaskan, kabar baik itu sudah diketahui pihak keluarga 2 (dua) bulan sebelum meletusnya peristiwa berdarah G-30S/PKI. “Waktu itu ketika pulang dari rapat dengan Bung Karno beserta para petinggi negara, Bapak cerita sama ibu bahwa kelak bakal jadi presiden”, kenang Yuni Yani, putri keenam Achmad Yani. “Setelah cerita sama ibu, esok harinya sepulang main golf, Bapak juga menceritakan itu kepada kami putra-putrinya. Sambil tertawa, kami bertanya, “Benar nih Pak?” Jawab Bapak ketika itu, “Ya”, ucapnya. Menurut Yuni, berita baik itu juga mereka dengar dari ajudan Bapak yang mengatakan Bapak bakal jadi presiden. Makanya ajudan menyarankan supaya siap-siap pindah ke Istana.
Sedangkan menurut Elina Yani (putri keempat), saat kakaknya Amelia Yani menyusun buku tentang Bapak, mereka menemui Letjen Sarwo Edhie Wibowo sebagai salah satu nara sumber. “Waktu itu, Pak Sarwo cerita bahwa Bapak dulu diminta Bung Karno menjadi presiden bila kesehatan Proklamator itu tidak juga membaik. Permintaan itu disampaikan Bung Karno dalam rapat petinggi negara. Di situ antara lain, ada Soebandrio, Chaerul Saleh dan AH Nasution”, katanya. “Bung Karno bilang, Yani kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi Presiden”, kata Sarwo Edhie seperti ditirukan Elina.
Pada prinsipnya, tambah Yuni pihak keluarga senang mendengar berita Bapak bakal jadi Presiden. Namun ibunya (Alm.Nyonya Yayuk Ruliah A.Yani) usai makan malam membuat ramalan bahwa kalau Bapak tidak jadi presiden, bisa dibunuh. “Ternyata ramalan ibu benar. Belum sempat menjadi presiden menggantikan Bung Karno,Bapak dibunuh secara kejam dengan disaksikan adik-adik kami. Untung dan Eddy. “Kalau Bapakmu tidak jadi presiden, ya nangendi (bahasa Jawa artinya :kemana) bisa dibunuh”, kata Nyonya Yani seperti ditirukanYuni. Lalu siapa pembunuhnya ?
Menurut Yuni, Ibu dulu mencurigai dalang pembunuhan ayahnya adalah petinggi militer yang membenci Achmad Yani. Dan yang dicurigai adalah Soeharto. Mengapa Soeharto membenci A.Yani ? Yuni mengatakan,sewaktu Soeharto menjual pentil dan ban yang menangkap adalah Bapaknya. “Bapak memang tidak suka militer berdagang.Tindakan Bapak ini tentunya menyinggung perasaan Soeharto”.
“Selain itu, usia Bapak juga lebih muda, sedangkan jabatannya lebih tinggi dari Soeharto”, katanya. Sedangkan Rully Yani (putri sulung) yakin pembunuh Bapaknya adalah prajurit yang disuruh oleh atasannya.”Siapa orangnya, ini yang perlu dicari”, katanya.Mungkin juga, lanjutnya, orang-orang yang tidak suka terhadap sikap Bapak yang menentang upaya mempersenjatai buruh, nelayan dan petani. “Bapak dulu kan tidak suka rakyat dipersenjatai.
Yang bisa dipersenjatai adalah militer saja”, katanya. Menurut dia, penjelasan mantan tahanan politik G-30S/PKI Abdul Latief bahwa Soeharto dalang G-30S/PKI sudah bisa menjadi dasar untuk melakukan penelitian oleh pihak yang berwajib. “Ini penting demi lurusnya sejarah. Dan kamipun merasa puas kalau sudah tahu dalang pembunuhan ayah kami”, katanya.
Dia berharap, kepada semua pelaku sejarah yang masih hidup bersaksilah supaya masalah itu bisa selesai dengan cepat dan tidak menjadi tanda tanya besar bagi generasi muda bangsa ini. Kesaksian istri dan putra-putri A.Yani bahwa Bapaknyalah yang ditunjuk Bung Karno untuk jadi Presiden kedua menggantikan dirinya, dibenarkan oleh mantan Asisten Bidang Operasi KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Marsekal Madya (Purn) Sri Mulyono Herlambang dan ajudan A.Yani, Kolonel (Purn) Subardi.
Apa yang diucapkan putra-putri Jenderal A.Yani itu benar. Dikalangan petinggi militer informasi tersebut sudah santer dibicarakan. Apalagi hubungan Bung Karno dan A.Yani sangat dekat, ujar Herlambang. Baik Herlambang maupun Subardi menyebutkan, walaupun tidak terdengar langsung pernyataan Bung Karno bahwa dia memilih A.Yani sebagai Presiden kedua jika ia sakit, namun keduanya percaya akan berita itu.
“Hubungan Bung Karno dengan A.Yani akrab dan Yani memang terkenal cerdas, hingga wajar jika kemudian ditunjuk presiden”,kata Herlambang. “Hubungan saya dengan A.Yani sangat dekat, hingga saya tahu betapa dekatnya hubungan Bung Karno dengan A.Yani”, ujar Herlambang yang saat ini sedang menyusun buku putih peristiwa G-30S/PKI. Menyinggung tentang kecurigaan Yayuk Ruliah A.Yani (istri A.Yani), bahwa dalang pembunuhsuaminya adalah Soeharto, Herlambang mengatakan bisa jadi seperti itu. Pasalnya 2 (dua) bulan sebelum peristiwa berdarah PKI, Bung Karno sudah menunjuk A.Yani sebagai penggantinya.
Tentu saja hal ini membuat iri orang yang berambisi jadi presiden.Waktu itu peran CIA memang dicurigai ada, apalagi AS tidak menyukai Bung Karno karena terlalu vokal. Sedangkan Yani merupakan orang dekat Bung Karno. Ditambahkan Herlambang, hubungan A.Yani dengan Soeharto saat itu kurang harmonis. Soeharto memang benci pada A.Yani. Ini gara-gara Yani menangkap Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban. Selain itu Soeharto juga merasa iri karena usia Yani lebih muda, sementara jabatannya lebih tinggi.
Terlebih saat A.Yani menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Bung Karno meningkatkan status KASAD menjadi Panglima Angkatan Darat. “Dan waktu itu A.Yani bisa melakukan apa saja atas petunjuk Panglima Tertinggi Soekarno, tentu saja hal ini membuat Soeharto iri pada A.Yani. Dijelaskan juga, sebenarnya mantan presiden Orde Baru itu tidak hanya membenci A.Yani,tapi semua Jenderal Pahlawan Revolusi. D.I.Panjaitan dibenci Soeharto gara-gara persoalan pengadaan barang dan juga berkaitan dengan penjualan pentil dan ban. Sedangkan kebenciannya terhadap MT. Haryono berkaitan dengan hasil sekolah di SESKOAD. Disitu Soeharto ingin dijagokan tapi MT.Haryono tidak setuju. Terhadap Sutoyo, gara-gara ia sebagai Oditur dipersiapkan untuk mengadili Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban itu.
Menurut Subardi, ketahuan sekali dari raut wajah Soeharto kalau dia tidak menyukai A.Yani. Secara tidak langsung istri A.Yani mencurigai Soeharto. Dicontohkan, sebuah film Amerika yang ceritanya AD disuatu negara yang begitu dipercaya pemerintah, ternyata sebagai dalang kudeta terhadap pemerintahan itu. Caranya dengan meminjam tangan orang lain dan akhirnya pimpinan AD itulah yang menjadi presiden. “Peristiwa G-30S/PKI hampir sama dengan cerita film itu”, kata Nyonya Yani seperti ditirukan Subardi.

Catatan penulis:
Saya ambil artikel ini dari berbagai sumber dan milis-milis dengan harapan klarifikasi dari para pembaca yang budiman. Sampai saat ini masih menggelayut pertanyaan di setiap kepala rakyat Indonesia tentang bagaimana fakta yang sebenarnya dari peristiwa kelam ini. Masih ada tokohtokoh dan narasumber dari kisah kelam sejarah masa lalu ini yang masih hidup.
Disinilah perlunya penuntasan 100% dan jawaban yang adil dan penyelidikan yang transparan bagi masalah yang menyangkut peristiwa G30S. Masih diperlukan penyelidikan lanjutan yang independen untuk menyingkap fakta-fakta seputar sejarah kelam ini.
JASMERAH : Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah! demikian kata Bung Karno.
7262-eij.html

Dalam pembelaannya, Kol. Latief menyatakan, bahwa tidak ada maksud untuk membunuh para jendral, tetapi hanya ingin menghadapkannya kepada Presiden Sukarno untuk mengklarifikasi tentang adanya berita tentang rencana kudeta oleh Dewan Jendral yang akan dilakukan pada tgl 5.Oktober 1965.
Belakangan terungkap, bahwa yang menyuruh agar membunuh para jendral ternyata Komandan pasukan yang bernama Doel Arif.
Lettu. Doel Arif adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam menangkap jenderaljenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G30S, ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan AD.
Belakangan terungkap, bahwa Doel Arif adalah seorang kepercayaan, malah dibilang anak kesayangan Ali Murtopo. Dan Ali Murtopo bersama Yoga Sugama adalah dua tokoh utama yang bersama Suharto sebagai Trio (Suharto-Ali Murtopo-Yoga Sugama) yang berperan menentukan dalam setiap langkah Suharto dalam melancarkan kudeta merangkak, dengan dukungan Blok Barat dibawah pimpinan CIA /AS menggulingkanpemerintahan Presiden Sukarno.
Nasib Lettu. Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi, sampai sekarang tidak ada yang tahu.
*****
Sumber :

Kenapa Suharto pantas diduga sebagai dalang dibalik G30S ?

 Pada tanggal 21 September 1965, Kapten Soekarbi mengaku menerima radiogram dari Soeharto yang isinya perintah agar Yon 530 dipersiapkan dalam rangka HUT ABRI ke- 20 pada tanggal 5 Oktober 1965 di Jakarta dengan perlengkapan tempur garis pertama.
Setelah persiapan, pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 25,26,dan 27 September.
Pada tanggal 28 September pasukan diakomodasikan di kebun Jeruk bersama dengan Yon 454 dan Yon 328. Tanggal 30 September seluruh pasukan melakukan latihan upacara. Pukul tujuh malam semua Dan Ton dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530, Mayor Bambang Soepono. Dalam briefing tersebut disebutkan bahwa Ibu kota Jakarta dalam keadaan gawat. Ada kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah. Briefing berakhir pada pukul 00.00. Pukul dua pagi tanggal 1 Oktober, Kapten Soekarbi memimpin sisa Yon 530 menuju Monas. Di kompleks Monas mereka berkedudukan di depan istana. Pada saat itu, karena kedudukan mereka dekat Makostrad, pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil. Karena tidak ada teguran dari Kostrad, berarti Kostrad tahu bahwa mereka ada di sana.
Pukul setengah delapan Kapten Soekarbi melapor pada Soeharto tentang keadaan ibu kota yang gawat serta adanya isu Dewan Jenderal. Namun Soeharto menyangkal berita tersebut.
Kapten Soekarbi sendiri mengaku tidak mengetahui terjadinya penculikan para Jenderal. Ia tetap merasa aman karena Pangkostrad Soeharto telah menjamin keadaan tersebut. Namun ia berpendapat bahwa Soeharto pasti lah tahu tragedi penculikan para Jenderal tersebut. Karena pada tanggal 25 September Kolonel Latief telah memberikanmasukan tentang keadaan yang cukup genting tersebut kepada Soeharto. Jadi sebenarnya mustahil apabila Soeharto tidak mengetahui tragedi tersebut.
Yang patut dipertanyakan lagi adalah mengapa Soeharto tidak melakukan pencegahan terjadinya tragedi tersebut. Kebiasaan dalam militer, apabila ada gerakan yang disinyalir akan membunuh atasan akan langsung dicegah. Namun kenyataanya Soeharto tidak sedikit pun mengambil sikap. Padahal apabila ditelusur ia sangat mampu mencegah kejadian tersebut. Pada saat itu, mereka sedang mempersiapkan HUT ABRI. Kostradlah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara tersebut. Jadi semua pasukan di Jakarta berada di bawah kendali Kostrad. Seharusnya Soeharto bisa memerintahkan pasukan untuk mencegahnya.
Dalam cerita versi Soeharto dan Orde Baru disebutkan terdapat pasukan liar di sekitar Monas. Kesaksian Kapten Soekarbi juga mematahkan pernyataan tersebut. Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada Kapten Soekarbi untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta. Tentunya ia mengenali pasukan siapa yang berada di Monas kala itu. Kostrad pun mengetahui kehadiran Yon 530. Namun pada kenyataannya Soeharto membiarkan pernyataan yang mengatakan bahwa terdapat pasukan liar pada saat itu.
***
Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan Soeharto adalah pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief saat menjengu anaknya, Tomy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dalam versinya ia hanya mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal dimana anaknya dirawat. Namun kejadian yang sebenarnya adalah mereka sempat berbincang-bincang. Pada saat itu Kolonel Latief melaporkan bahwa besok pagi akan ada tujuh jenderal yang akan dihadapkan pada presiden. Namun pada saat itu Soeharto tidak bereaksi. Ia hanya menanyakan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Tapi dari hasil wawancara Soeharto dengan seorang wartawan Amerika, ia mengatakan”…….Kini menjadi jelas bagi saya, bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan kebenaran berita , sekitar sakitnya anak saya, ……”.
Sedangkan dalam majalah Der Spiegel (Jerman Barat) Soeharto berkata.”Kira-kira jam 11 malam itu, Kolonel Latief dan komplotannya datang ke Rumah Sakit untuk membunuh saya, tetapi tampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.” Dengan demikian ada tiga versi yang dikeluarkan oleh Soeharto sendiri tentang pertemuannya dengan Kolonel Latief. Hal ini sangat lah memancing kecurigaan bahwa Soeharti hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya.
***
Penyajian adegan penyiksaan ke enam jenderal dalam film G/30/S/PKI ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita versi Soeharto. Serka Bungkus adalah anggota Resimen Cakrabirawa. Pada saat itu ia mendapat tugas ”menjemput” M.T Haryono. Ia turut menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya. Ia menyatakan bahwa proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui proses penyiksaan seperti pada film G/30/S/PKI. Satu per satu Jenderal dibawa kemudian duduk di pinggir lubang setelah itu ditembak dan akhirnya masuk ke dalam Lubang. Serka Bungkus mengetahui adanya visum dari dokter yang menyatakan tidakada tindak penganiayaan. Namun sepengetahuannya Soeharto melarang mengumumkan hal itu.
Selain itu salah satu dokter yang melakukan visum, Prof. Dr. Arif Budianto juga menyatakan bahwa tidak ada pelecehan seksual dan pencongkelan mata seperti yang ditayangkan dalam film. Memang pada saat dilakukan visum ada mayat dengan kondisi bola matanya ’copot’. Tapi hal itu terjadi karena sudah lebih dari tiga hari terendam bukan karena dicongkel paksa. Karena di sekitar tulang mata pun tidak adabagian yang tergores.
Tentu kita tidak dapat menduga-duga apa tujuan dan motif Soeharto menyembunyikan hasil visum. Dalam hal ini ia terkesan ingin memperparah citra PKI agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang tragedi ini semakin kuat. Kebencian masyarakat pada PKI pun akan memuncak dengan melihatnya.
Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi tersebut adalah banyaknya orang-orang yang dituduh mendukung PKI dan pada akhirnya dijebloskan ke penjara. Antara lain adalah Kolonel Latief, Letkol Heru Atmodjo, Kapten Soekarbi, Laksda Omar Dani, Mayjen Mursyid, dan masih banyak lagi. 
Kebanyakan dari mereka ditahan tanpa melalui proses peradilan. Orang- orang tersebut kebanyakan mengetahui bagaimana sebenarnya hal itu terjadi. Seperti contohnya Kapten Soekarbi. Ia ditahan setelah membuat laporan tentang kejadian yang ia alami pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965. Penahanan tanpa proses peradilan ini dapat disinyalir sebagaisebuah upaya yang dilakukan Soeharto agar saksi-saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada khalayak. Ketakutan yang dialami Soeharto ini tentunya justru semakin memperkuat anggapan bahwa dialah dalang di balik peristiwa G/30/S/PKI.

Monday, 1 February 2016

Dokter Tak Temukan Tanda Tanda Depresi Pada Jessica Kumala Wonngso

jesiica motif



Jakarta – Dokter Kesehatan Polda Metro Jaya memastikan kondisi psikologi Jessica Kumala Wongso baik-baik saja setelah ditetapkan sebagai tersangka. Saat kesehatannya diperiksa, hasilnya bertentangan dengan pernyataan kuasa hukum Jessica yang mengatakan dia depresi.

“Enggak bener itu (depresi). Jessica enggak depresi, ia baik-baik saja. Untuk sementara, waktu pas ditahan kita periksa belum ada. Masih dalam keadaan normal,” ujar Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Musyafak. 

Menurutnya, hingga pengecekan kesehatan terakhir, Jessica normal dan tak ada gangguan kesehatan.
“Tensinya bagus, kemudian untuk tanda-tanda lain masih bagus, belum ada gangguan kesehatan,” kata Musyafak.

Namun, kini motif Jessica Diduga Meracun Mirna masih jadi PR Kepolisian. Dan Pengacara Jessica Bakal Siapkan Langkah Praperadilan Hari Pertama di Tahanan Polda Metro.

Untuk pemeriksaan lanjutan, Musyafak mengatakan tergantung pada penyidik.
“Pertama kali datang kita periksa kondisi awalnya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Berikutnya tergantung permintaan penyidik,” ujar Musyafak.

Jessica telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kopi sianida yang diminum Wayan Mirna Salihin sejak Jumat, 29 Januari 2016 pukul 23.00 WIB. Kemudian, pada Sabtu, 30 Januari 2016, pukul 07.45 WIB, penyidik menangkap Jessica di Hotel Neo, Mangga Dua, Jakarta Utara.
Jessica ditahan dengan surat penahanan bernomor SP.Han/100/1/2016/Ditreskrimum. Jessica bakal ditahan hingga 18 Februari 2016.


Thursday, 28 January 2016

Polisi Tembak Mati Dua Penabrak Brimob di Kebun Sawit



PADANG - Dua orang diduga pelaku penabrak anggota Brimob Kesatuan Padang Panjang, Sumatera Barat hingga tewas ditembak mati oleh petugas kepolisian. Sebelumnya  Brigadir Nanang Hermansyah dan Brigadir Anasril ditemukan tewas pada Minggu (24/1/2016) di area perkebunan sawit milik PT Sumbar Andalas Kencana, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar akibat diduga ditabrak pencuri sawit.
"Ya dua orang yang diduga pelaku yang menabrak anggota Brimob ditembak mati setelah mencoba melawan polisi saat penangkapan dilakukan,” ujar Kabid Humas Polda Sumbar, AKBP Syamsi, Minggu (24/1/2016).

Kedua pelaku yang ditembak mati itu sudah di bawah ke rumah sakit setempat di autopsi.
“Polisi menduga pencuri buah sawit tersebut lebih dari lima orang, dua tersangka ini ketika diamankan melakukan perlawanan dengan senjata tajam,” katanya.

Menurut Syamsi, tewasnya Brigadir Anasril (36) dan Brigadir Nanang Hardiansyah (30) saat membantu pengamanan PT Sumbar Andalas Kencana di Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya.

Dimana saat pimpinan kebun PT SAK Timur, Gunardi mendapat informasi dari Divisi Manager II Kasman bahwa telah terjadi pencurian buah kelapa sawit di lokasi tuangan kebun Afdeling E.

Selanjutnya Gunardi dan Kasman bersama dua orang personel Brimob Padang Panjang Brigadir Anasril dan Brigadir Nanang langsung menuju lokasi dengan menggunakan mobil Toyota Hilux BA 8841 BG.

Dalam perjalanan menuju ke TKP dilihat Portal Afdeling E telah rusak dan dibuka paksa, beberapa saat kemudian dilihat dua unit truk jenis Mitsubishi Canter dan Dina Ryno bermuatan buah kelapa sawit menuju ke arah datangnya mobil dari PT SAK.

Dua orang personel Brimob tersebut langsung turun dari mobil dan berusaha menghentikan kedua truk tersebut dengan cara menghadang di tengah jalan sambil memberikan satu kali tembakan peringatan ke udara.

Namun kedua kendaraan tersebut tidak berhenti dan menambah laju kendaraannya sehingga menabrak dua orang personel Brimob tersebut akibatnya meninggal dunia di lokasi. “Keduanya digilas kendaraan,” pungkasnya.

Rencana Pemerintah : Harga Premium Diusulkan Bakal Turun Menjadi Rp 5.600 per Liter


Anggota Komisi VII DPR RI "Ramson Siagian".



Jakarta, – Anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian, memberi usul agar pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dari Rp 6.950 menjadi Rp 5.600 per liter. 

Alasannya, harga keekonomian BBM termasuk Premium saat ini sudah terlalu tinggi. Mengingat harga minyak mentah dunia turun bekisar US$ 28-30 per barel.
“Jika harga minyak mentah terus turun hingga menembus US$ 25 per barel, maka seharusnya harga BBM Premium Rp 5.600 per liter. Itu sudah termasuk biaya-biaya lain, seperti ongkos kilang, ongkos angkut, marjin untuk SPBU,” ujar Ramson dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (24/1/2016).

Lebih jauh, katanya, penurunan harga BBM mempunyai manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha, termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) karena biaya produksi menyusut. Pemerintah perlu mendorong industri nasional di tengah kelesuan ekonomi global dan Indonesia.

Padahal seharusnya harga BBM dilepas mengikuti mekanisme pasar atau harga keekonomian. Itu artinya, kata politikus dari Fraksi Gerindra itu, rakyat saat ini mensubsidi pemerintah melalui harga BBM.
“Sebanyak 80 persen keuntungan Pertamina dari sektor hulu, produksi migas, bukan dari hilir penjualan BBM. 

Kalau harga minyak sampai US$ 25 per barel, tidak ada lagi keuntungan jadi Pertamina perlu untung besar di sektor hilir, sehingga mempertahankan harga BBM. Dan harga ini dilindungi pemerintah,” ucap Ramson.

Jokowi Menjawab Kritik Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

KEBIJAKAN EKONOMI JOKOWI-JK
Ir. H. Joko Widodo & Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla

Jakarta, – Presiden Jokowi menjawab kritikan soal proyek puluhan triliun ini. Menurut dia, rakyat membutuhkan transportasi massal yang baik dan memadai.
“Kereta cepat Jakarta-Bandung adalah bagian dari rencana besar kita menghubungkan kota-kota besar di Jawa dan luar Jawa -Jkw,” tulis Jokowi dalam akun Twitternya, @jokowi dikutip merdeka.com, Kamis (28/1).

Proyek ini semakin mendapat sorotan, terlebih Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang notabene pimpinan partai penguasa juga menolak kereta cepat asal China itu. Kendati begitu, pemerintah tetap menjalankan proyek yang digarap oleh Menteri BUMN Rini Soemarno tersebut.

Menurut Jokowi, proyek kereta cepat adalah masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah menjalankan proyek ini.
“Kereta api masa depan transportasi massal kita. Kota-kota yang padat penduduknya harus sudah menggunakan moda transportasi ini” jelas dia.

Dimana Proyek pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung menuai banyak kritik. Pembangunan dalam rute Jakarta menuju Bandung dinilai belum dibutuhkan. "Sebab, dalam rute itu bisa dilalui dengan mudah oleh transportasi mobil atau pesawat". (Rck).

Dua Pimpinan Kelompok Bersenjata Papua ‘Insyaf’ dan Ingin Kembali ke NKRI


[foto: int]
Melodi Enumbi dan Terinus Enumbi

Jayapura – Bupati Puncak Jaya Hanock Ibo kepada wartawan mengatakan bahwa dua pimpinan kelompok bersenjata di Papua, yaitu Melodi Enumbi dan Terinus Enumbi telah menyatakan keinginannya kembali ke NKRI. Keduanya merupakan panglima daerah yang ada di bawah komando Goliath Tabuni.
“Saat ini Goliath Tabuni sudah tidak memiliki pengawal karena mereka sudah keluar dan ingin kembali ke NKRI,” kata Hanock seperti dilansir Antara, (26/01).

Menurut Hanock, saat ini ada 10 mantan anggota kelompok bersenjata sudah berada di Jayapura dan akan meninjau berbagai hasil pembangunan. Dia mengaku jika pihaknya ingin memperlihatkan hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan pemerintah selama ini.
“Mudah-mudahan dengan makin banyaknya anggota kelompok bersenjata yang menyatakan diri dan bergabung dengan NKRI maka pembangunan dikawasan pegunungan dapat berlangsung,” harapnya.

Selain itu, lanjut Hanock, dari laporan yang diterima terungkap bahwa Melodi Enumbi dan Terinus Enumbi memiliki lima pucuk senjata perbagai jenis.
“Senjata itu hingga kini masih ditangan mereka,” ucapnya.
Hanock menambahkan bahwa selain akan ke Jayapura, mereka juga berencana untuk berkunjung ke Jakarta.

Wednesday, 27 January 2016

Kasus Fasum Hanya Di Vonis 1 Bulan 15 Hari



Makassar - Putusan tak berimbang Pengadilan Negeri Makassar atas vonis 1 bulan 15 hari dengan gugatan telah melakukan penyerobotan tanah milik ibu syifa Ahmad dan dengan alasan Rusdy menutup akses/jalan menuju rumah belakang saksi yang katanya itu adalah fasum (fasilitas umum).

Pihak tergugat Rusdy Wijaya Alias Rusdy (39) tahun warga jalan cendrawasih No. 32, Rt 007/ Rw 002 kelurahan kunjung mae kecamatan mariso kota makassar merasa keputusan pihak Pengadilan Negeri Makassar dianggap sepihak.

Sementara pengacara MURLIANTO, SH.,MH. Sebagai Konsultan Hukum Rusdy Wijaya mengatakan tuntutan hakim ketua Nomor Tuntutan Reg.Perk.: PDM-84/MKS/Ep/09/2015. Melalui jumpa pers di Cafe Cangkir senin 25/01/2015. "Jaksa pengadilan hanya mempertimbangkan atas dasar penyerobotan seluas 7 cm yang di bangun berupa tiang oleh tergugat. Bukan putusan berdasarkan alih fungsi pasum sesuai dengan laporan awal bu Syifa ahmad" tuturnya pada

Sementara berdasarkan pengkuran dengan surat ukur pertanggal 17/06/2014 No.01008/2014 dengan luas tanah 87 M2 atas nama SADOQ ALWI dan SABIR ALWI terjadi maka tergugat segera malakukan pembongkaran tiang miliknya tersebut yang pada awalnya kedua belah pihak tak ada yang menyadari masing masing dari mereka telah melawati batas tanah. Dimana ibu Syifa Achmad juga telah melakukan pembangunan seluas 17 Cm dari luas bangunan miliknya sendiri.

Atas putusan pengadilan tersebut maka pihak tergugat Rusdy Wijaya berencana melakukan banding karena merasa ini adalah keputusan sepihak tampa pertimbangan laporan awal Bu Syifa yang mengklaim itu adalah pasum.

KPK Akan Evaluasi Prosedur Penggeledahan




JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Sahardjo mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi standar operasi atau SOP penggeledahan.

"Kami harus menghormati pengamanan objek vital lembaga negara. Ke depan SOP akan kami dievaluasi. Kami akan tetap menjaga dan menghormati prosedur," kata Ketua KPK Agus Sahardjo di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu 27 Januari 2016.

Namun, Agus mengatakan jika tim yang datang untuk menggeledah ruangan politikus PDIP Damayanti Wisnu Putranti sudah sesuai prosedur. "Banyak pertanyaan sama, mengenai penggeledahan. Kedatangan kami di DPR sudah sesuai standar," kata Agus.

Penyidik KPK, lanjut Agus, masuk ke dewan pukul 10.00 WIB. "Kami melewati tangga dengan maksud untuk menghindari wartawan dan itu diantarkan oleh Sufmi Dasco Ahmad," ujar Agus.

Insiden Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dengan penyidik KPK itu, kata Agus, baru terjadi pukul 13.00 WIB setelah kami melakukan penggeledahan di 2 tempat.

"Kejadiannya di lantai 3. Kami tak ingin menjadi sensasi dan tontonan dari para wartawan. Karena kami memang harus menghormati objek vital lembaga negara," kata Agus.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar Adies Kadir berharap penggeledahan di DPR dengan polisi bersenjata lengkap tidak lagi terulang ke depannya.

Adies juga mengaku kecewa karena penyidik KPK masuk begitu saja ke Gedung DPR tanpa menjelaskan keperluannya.

"Yang kurang baik jangan terulang. Melihat penyidik masuk ke rumah kami (DPR) tanpa mau tahu keperluannya apa, main masuk saja, di pos pun begitu. Kemudian (Brimob) membawa senjata laras panjang seperti siap perang," ucap Adies.

Harapan yang sama juga dikemukakan Didik Mukrianto. Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Demokrat ini hiruk pikuk DPRKPK melahirkan persepsi tidak baik.

"Kami juga berharap tidak ada huru-hara," ujar Didik di Jakarta, Rabu 27 Januari 2016.
 

About Us

animasi-bergerak-kapal-laut-0197 Hubungi : Bapak DEDY S: 0812-1315-4156 | Jasa Pengiriman Laut

Gallery